Belajar Pangan Lokal dengan Mbah Suki

      Mbah Suki merupakan warga Desa Bringin sekaligus nenek saya. Beliau berumur kurang lebih 70 tahun. Keseharian Mbah Suki sebagai pedagang pecel, yang dulunya beliau merupakan seorang petani. Beliau di bantu suaminya untuk menanam ketela di sawahnya. Hingga saat panen beliau dan suaminya (Alm. Mbah Parno) di bantu oleh kerabatnya untuk memanen ketela tersebut. Sekarang beliau sudah tidak menjadi petani lagi.
        Sepulang sekolah pada hari Selasa aku ke rumah Mbah Suki untuk tanya-tanya soal pangan lokal tersebut. Mbah Suki yang sedang melakukan aktivitas yaitu memisahkan batang dan daun kangkung. Aku sudah menyiapkan poin-poin untuk di tanyakan ke Mbah Suki soal pangan lokal. Berikut poin-poin yang sudah saya siapkan, yaitu jenis pangan lokal, cara menanam, cara memanen, cara mengolah, dan cara menyajikan bahan pangan lokal tersebut.
          Menurut Mbah suki, masyarakat Desa Bringin memiliki tradisi menanam ketela. Masyarakat desa menanam ketela dengan cara, yaitu menyiapkan lahan atau tanah gundukan, siapkan juga batang ketela yang sehat dan besar, lalu ditancapkan ke tanah gulukan yang sudah di siapkan untuk menanam ketela tersebut. Menurut Mbah Suki, menanam ketela cukup memakan waktu yang lama, mulai menunggu daun tumbuh sekitar 2 minggu, dan akan siap panen sekitar 6-8 bulan. Saat sudah siap panen, ketela dapat diambil dengan cara mencabut atau menggali tanah yang di tumbuhi ketela tersebut, hingga ketela keluar. Dan, pisahkan ketela dengan batangnya. Ketela siap di olah. Tutur Mbah Suki, masyarakat Desa Bringin biasanya mengolah ketela dengan cara di rebus saja, atau bisa di tambahkan gula merah saat ketela tersebut di rebus. Agar gula merah tersebut dapat meresap ke dalam ketela.
         
        Mbah Suki